MAKALAH TAFSIR | TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG ALLAH SWT



MAKALAH TAFSIR


Ayat – ayat Tentang Allah SWT


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


TAFSIR I


Dosen Pengampu : Islah Gusmian, S.Ag, M.Ag


 




 


 


Disusun Oleh :


 


 


 


PROGRAM PAI


JURUSAN TARBIYAH (NON REGULER)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA


TAHUN 2010


 


 


 


 


BAB I


PENDAHULUAN


 


I. Pendahuluan


Menurut H.M Quraish Shihab, di dalam al qur’an kata Allah terulang sebanyak 2698 kali dan mengetahui-Nya dengan penuh keyakinan, termasuk salah satu hal yang wajib di lakukan oleh setiap manusia. Banyak alasan yang dapat di kemukakan untuk memperkuat pernyatan tersebut dalam kehidupan umat manusia. Nurkholis madjid misalnya menjelaskan tentang fungsi keimanan dalam hubungannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sikap terbuka, tutur kata yang baik, optimisme, rasa aman, dan sebagainya.


Hal lain yang dapat menjelaskan kedudukan iman tersebut adalah dengan cara menunjukkan tentang tidak sahnya amal ibadah tanpa diserati dengan niat karena Allah SWT dan sekaligus menentukan kualitas amal ibadah dan amaliah lainnya. Dari keimanan yang benar, kokoh dan subur akan di hasilkan perilaku yang benar dan penuh optimisme serta berani berkorban demi kebaikan. Sebaliknya dari keimanan yang keliru, goyah akan di hasilkan perbuatan serta tindakan yang sesat serta merugikan, mudah menyerah dan sebagainya. Atas dasar inilah perbuatan-perbuatan yang dapat merusak iman seperti syirik. Sedangkan perbuatan-perbuatan yang dapat menyuburkan keimanan seperti berbagai amal shaleh.


Untuk lebih mendapatkan pemahaman dan caranya yang benar dan komprehensif, pada bagian ini kami pemakalah mengkaji tentang topic mengenal Allah SWT dengan acuan utamanya Al Qur’an Surat Al hasyar Ayat 22-24, Surat Ar-Arum 20-25, dan Surat Al Sajdah Ayat 9-12.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


BAB II


PEMBAHASAN


 


1) Sebab Turunnya :


A. Kandungan Surat Al Hasyr ayat 22-24


Surat Al Hasyr berjumlah 24 ayat, menurut keterangan yang di berikan Sayyid Qutbh, surat ini turun berkenaan dengan peristiwa Nabi Muhammad SAW dengan kelompok Bani Nadlir yang terjadi pada awal tahun ke empat hijriah setelah perang Uhud dan sebelum perang Ahzab. Pada itu Al Maraghi mengatakan bahwa surat ini termasuk surat yang turun di Madinah, berjumlah 24 ayat dan di turukan setelah Al Bayyinab dan di turukan dengan berkenaan dengan Bani Nadlir. Selanjutnya keterangan ini di perkuat oleh ibn abbas, mujahid dan Az zuhri menceritakan bahawa ketika Rosulullah SAW sampai di Kota Madinah beliau mengadakan perjanjian dan di jaminan untuk tidak saling memerangi dengan kaum bani Nadlir. Namun mereka mengingkari perjanjian itu, kemudian turunlah surat ini yang intinya mengijinkan kepada Nabi agar mengusir bani Nadlir dari kota Madinah. Penjelasan serupa ini di perkuat oleh keteranga Abi al hasan ali bin ahmad al wahidy al naisabury.


Makna Ayat ke 22 :


uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ÞOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur ( uqèd ß`»oH÷q§9$# ÞOŠÏm§9$# ÇËËÈ


Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya Tiada Tuhan Selain Allah SWT, dan setiap orang yang menyembah selain DIA seperti tumbuh-tumbuhan, batu, berhala, atau raja adalah batal. Allah maha mengetahui segala sesuatu yang tampak di jagad raya baik yang tampak maupun yang tidak tampak, serta tidak ada satu yang dilangit dan bumi ini yang lepas dari pengetahuan-NYA, Allah memiliki Rahmat yang amat luas yang menjangkau seluruh ciptaan-NYA. Allah maha pengasih di dunia dan di akhirat serta pada keduanya. Menurut para ulama ahli tafsir bahwa pada ayat ini paling kurang berisi tiga penegasan, yang pertama tentang sebutan Allah sebagai Tuhan dalam islam, kedua tentang sifat al-rahman, dan ketiga tentang sifat al-rahim bagi Allah SWT.


Makna Ayat ke 23 :


uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨rà)ø9$# ãN»n=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$# ÚÆÏJøygßJø9$# âƒÍyèø9$# â$¬6yfø9$# çŽÉi9x6tGßJø9$# 4 z`»ysö6ß «!$# $£Jtã šcqà2ÎŽô³ç ÇËÌÈ


Ayat ini menjelaskan bahwa Allah adalah satu-satunya penguasa terhadap apa pun juga. Dialah yang menggerakkan segala sesuatu tanpa ada yang mampu menghalangi dan menolaknya, Dia terhindar dari segala sesuatu yang tercela dan hal-hal yang menunjukkan kekurangan, yang mengamankan Makhluk-NYA dari sesuatu yang menzaliminya dan Dia Pula yang Mengintainya. Dia pula yang memuliakan terhadap sesuatu yang di nilai rendah, yang mampu mengalahkan sesuatu melalui ke Agungan dan Daya Paksa-Nya.


Makna Ayat ke 24 :


uqèd ª!$# ß,Î=»yø9$# äÍ$t7ø9$# âÈhq|ÁßJø9$# ( ã&s! âä!$yJóF{$# 4Óo_ó¡ßsø9$# 4 ßxÎm7|¡ç ¼çms9 $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( uqèdur âƒÍyèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇËÍÈ


Berkenaan dengan ayat tersebut, al-maraghi mengatakan bahwa Dia-lah Allah yang menciptakan segala sesuatu dan menampakkannya di alam jagad raya berdasrkan sifat yang di kehendaki-Nya. Dia-lah Allah yang memiliki Asma’ Al husna dan tidak ada satupun yang dapat menyamai-Nya. Dengan sifat-sifat-Nya yang demikian itulah maka segala apa yang ada dilangit dan di bumi memuji-Nya. Dan dengan cara demikian manusia akan berada dalam kekuasaan-Nya yang akan di jamin keselam-atannya serta kedamaian, perlindungan dan kasih syanng. Dalam realisasinya upaya ini dilakukan dengan melaksanakan berbagai aktifitas kehidupan melalui segenap potensi dan kemampuan yang di milikinya. Manusia yang demikian itulah yang ingin di tuju dalam pendidikan islam.


B. Kandungan Surat Ar-Rum ayat 20-25:


ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& Nä3s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? ¢OèO !#sŒÎ) OçFRr& ֍t±o0 šcrçŽÅ³tFZs? ÇËÉÈ


ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ


ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä ß,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ß#»n=ÏG÷z$#ur öNà6ÏGoYÅ¡ø9r& ö/ä3ÏRºuqø9r&ur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy tûüÏJÎ=»yèù=Ïj9 ÇËËÈ


ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä /ä3ãB$uZtB È@ø©9$$Î/ Í$pk¨]9$#ur Nä.ät!$tóÏGö/$#ur `ÏiB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù 4 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqãèyJó¡o ÇËÌÈ


ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä ãNà6ƒÌãƒ s-÷Žy9ø9$# $]ùöqyz $YèyJsÛur ãAÍit\ãƒur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ¾Çósãsù ÏmÎ/ šßöF{$# y÷èt/ !$ygÏ?öqtB 4 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ ÇËÍÈ


ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä br& tPqà)s? âä!$yJ¡¡9$# ÞÚöF{$#ur ¾Ín̍øBr'Î/ 4 §NèO #sŒÎ) öNä.$tãyŠ ZouqôãyŠ z`ÏiB ÇÚöF{$# !#sŒÎ) óOçFRr& tbqã_ãøƒrB ÇËÎÈ


Artinya :


Dan diantara tanda-tanda  kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu ( menjadi ) manusia yang berkembang biak.


Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasanganmu untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda ( kebesaran Allah ) bagi kaum yang berfikir.


Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lain  bahasa dan warna kulitmu, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.


Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapt tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.


Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk ( menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia turunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.


Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan indah-Nya. Kemudian apa bila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu ( juga ) kamu keluar dari ( dari kubur ). ( QS. Ar-Rum, 20-25 ).


 


C. Kandungan Surat As-Sajdah ayat 9-12


¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ


(#þqä9$s%ur #sŒÏär& $uZù=n=|Ê Îû ÇÚöF{$# $¯RÏär& Å"s9 9,ù=yz ¤ƒÏy` 4 ö@t/ Nèd Ïä!$s)Î=Î/ öNÍkÍh5u tbrãÏÿ»x. ÇÊÉÈ


* ö@è% Nä39©ùuqtGtƒ à7n=¨B ÏNöqyJø9$# Ï%©!$# Ÿ@Ïj.ãr öNä3Î/ ¢OèO 4n<Î) öNä3În/u šcqãèy_öè? ÇÊÊÈ


öqs9ur #ts? ÏŒÎ) šcqãB̍ôfßJø9$# (#qÝ¡Ï.$tR öNÎhÅrâäâ yZÏã óOÎgÎn/u !$oY­/u $tR÷Ž|Çö/r& $uZ÷èÏJyur $oY÷èÅ_ö$$sù ö@yJ÷ètR $·sÎ=»|¹ $¯RÎ) šcqãZÏ%qãB ÇÊËÈ


Artinya :


Kemudian Di menyempurnakannya dan meniupkan roh ( ciptaa )-Nya kedalam ( tubuh )nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, ( tetapi ) sedikit sekali kamu bersyukur.


Dan mereka berkata, “apakah apabila kami telah lenyap ( hancur ) didalam tanah, kami akan berada di dalam ciptaannya yang baru?” Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.


Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk ( mencabut nyawa )mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan di kembalikan.


Dan ( alangkah ngerinya ), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, ( mereka berkata ), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ( ke dunia ), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sung-guh, kami adalah orang-orang yang yakin”.( Q.S. As-Sajdah 9-12 ).


 


Selanjutnya jika ketiga Surat diatas tersebut di uraikan tampak di jumpai keserasian yang indah, Dalam ayat-ayat Surat al Hasyr menjelaskan tentang sifat-sifat Allah, sedangkan ayat-ayat surat ar-Rum dan As-Sajdah menjelaskan tanda-tanda sifat-sifat Tuhan tersebut. Sedangkan makna paragmatis


Yang dapat di ambil dari keterangan tersebut adalah bahwa Allah merasa perlu untuk mengak-tualisasikan sifat-sifat yang ada Pada-Nya, karena dengan cara demikianlah, selain Allah dapat dikenal, juga akan dirasakan exsistensinya secara fungsional oleh manusia. Demikian pula halnya manusia yang memiliki berbagai predikat atau gelar. Ia harus di aktualisasikan predikat dan gelarnya itu secara nyata di tengah-tengah kehidupannya. Hanya dengan cara demikian itulah manusia selain dapat di kenal, juga dapat di rasakan keberadaan dan manfaatnya baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain dan masyarakat sekitarnya.


 


2) Kandungan Pendidikan


Uraian mengenai keimanan kepada Allah sebagai mana dapat di pahami dari Kandungan beberapa ayat dari surat-surat tersebut di atas memiliki hubungan yang erat dengan Pendidikan Islam, hal ini dapat di jelaskan sebagai berikut.


  1. Pertama dilihat dari segi kedudukannya, keimanan kepada Allah dengan segala uraian yang berkaitan dengannya, selain menjadi materi utama Pendidikan Islam, juga dapat menjadi dasar bagi perumusan tujuan pendidikan, dasar penyusunan kurikulum dan aspek-aspek pendidikan lainnya. Di kalangan para ahli Pendidikan di sepakati bahwa mata pelajaran tentang keimanan termasuk mata pelajaran pokok dalm pendidikan islam. Selanjutnya tujuan pendidikan dalam islam juga harus berkaitan dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Para ahli Pendidikan misalnya sepakat bahwa tujuan pendidikan islam adalah menciptakan pribadi-pribadi yang taat beribadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya.
  2. Kedua dilihat dari fungsinya, keimanan kepada Allah berfungsi mendorong bagi upaya meningkatkan di bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat di pahami dari keharusan orang-orang yang beriman agar memperkuat keimanannya dengan dalil-dalil baik yang bersifat naqli ( al qur’an dan al hadits ), maupun dalil aqli yang di bangun dari argumentasi rasional. Karena dari keimanan yang di dasarkan pada argumentasi itulah yang dapat menimbulkan sikap tanggung jawab, kreatif, dinamis dan inofatif. Sikap yang demikian muncul sebagai hasil dari proses internalisasi sifat-sifat Allah dalam diri manusia dan manifestasinya dalam kenyataan hidup sesuai kadar kesanggupannya. Di dalam surat al Muja-dalah ayat 11, Allah SWT menjanjikan akan mengangkat derajat seseorang yang memiliki keimanan yang di perkuat dengan ilmu pengetahuan. Nurcholish Madjid mengatakan, bahwa iman mendidik kita untuk mempunyai komitmen kepada nilai-nilai luhur, dan ilmu member kita kecakapan teknis guna merealisasikannya. Ringkasnya. Iman dan ilmu secara bersama akan membuat kita menjadi orang baik dan sekaligus tahu cara yang tepat mewujudkan kebaikan itu.
    Maka dapat di mengerti mengapa iman dan ilmu merupakan jaminan keunggulan dan superioritas. Namun demikian secara hirarkis nilai, masih tetap dikenali bahwa iman adalah primer, yang utama, dan ilmu adalah sekunder, pelengkap. Ini bisa di lukiskan : “ lebih baik seorang yang jujur meskipun bodoh dari pada seorang jahat meskipun berilmu ”. Atau “ lebih baik seoarang yang bodoh tapi jujur dari pada seorang yang pandai tapi jahat “. Sebab kepandaian di tangan orang jahat akan menunjang kejahatannya itu segingga berlipat ganda dan semakin merusak.
    Selanjutnya keimana kepada Allah juga meniscayakan bahwa segala perkataan yang dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur’an adalah Pasti, sedangkan perkataan yang berasal dari manusia disamping kemungkinan mengandung kebenaran juga kemungkinan mengandung kesalahan. Atas dasar alasan ini, maka manusia harus mengembangkan sikap terbuka atau tahu diri, yaitu tahu bahwa diri sendiri mustahil mampu meliputi seluruh pengetahuan akan kebenaran. Sikap terbuka ini merupakan keadaan jiwa yang amat kondusif bagi upaya mendorong seseorang untuk terus belajar, mencari kebenaran dan memiliki semangat ilmiah yang tinggi. Osman Bakar mengatakan, bahwa semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan keEsaan Tuhan. Memiliki kesadaran atas KeEsaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah Satu dalam Esensi-Nya, dalam Nama-Nama dan Sifat-sifat-Nya, Dan dalam Perbuatan-Nya. Oleh kar-ena itu ada sebuah hubungan konseptual yang penting antara obyektivitas ilmiah dengan kesadaran religious. Dengan demikian jelaslah bahwa keimanan kepada Allah memiliki hubungan subtansial dan fungsional dalam kerangka perumusan konsep Pendidikan Islam pada Umumnya, dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan peradaban pada Umumnya.
     
     
    BAB III
    PENUTUP
     
    3) Kesimpulan
    Berdasarkan uraian tersebut di atas, Pemakalah mencoba menarik kesimpulan bahwa pada intinya ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang Agung dan Sempu-rna. Dengan sifat-sifat yang demikian itulah Allah SWT menciptakan dan melindungi seluruh ciptaan-Nya. Manusia di suruh mengimani Allah dan mempeljari sifat-sifat-Nya, bukan semata-mata untuk Allah SWT, melainkan untuk Manusia itu sendiri. Dengan keimanan tersebut di harapkan manusia dapat memiliki sikap optimis, bersyukur, terbuka, demokratis, bertanggung jawab, serta senantiasa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya serta bagi masyarakat dan makhluk lainnya.
     
     
     
     
     
     
     
     
    REFERENSI
    Ahmad Mushthafa al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy
    H.M. Quraish Shihab, Menyikap Tabir Ilahi, ( Jakarta: Lentera Hati, 1998 )
    Nurcholish Madjid, Pintu-pintu Menuju Tuhan, ( Jakarta: Paramadina, 1995 )
    Osman Bakar, Tauhid & Sains Esai-esai Tentang Sejarah & Filsafat Sains Islam, ( Jakarta: Pustaka Hidayah, 1995 )
     
     
     
     
    PERTANYAAN


  1. Apa yang di maksud dengan kelompok bani nadlir?
  2. Kenapa Allah SWT mendapat sebutan sebagai tuhan dalam islam, dan tentang sifat Al-Rahman, dan tentang sifat Al-Rahim bagi Allah SWT?
  3. Implementasi dalam kehidupan sehari-hari dari mengenal sifat-sifat Allah SWT?


JAWABAN


  1. Bani nadlir adalah sekolompok orang yahudi yang bertetangga dengan kaum mukmin di madinah.
  2. Ada teori menyatakan bahwa Allah berasal dari kata Illah yang berarti segala sesuatu yang disembah, baik penyembhan itu tidak dibenarkan oleh akidah islam, seperti terhadap matahari, bintang, bulan, manusia dan berhala, maupun yang dibenarkan dan di perintahkan oleh islam, yakni zat yang wajib wujud-Nya yakni Allah SWT. Dan ketika kata Illah di beri awal Al, dan menjadi kata Allah maka menjadilah ia tuhan yang Khusus untuk Islam. Dalam kaitan ini sejalan dengan ucapan La illaha Illa Allah ( tiada tuhan yang di akui sebagai pencipta, berkuasa, dan wajib disembah dan seterusnya kecuali Allah ).Dengan menyebut nama Allah maka seluruh sifat agung ada pada diri-Nya, sedangkan jika disebut salah satu sifat-Nya seperti ar-rahman, ar-rahim dan seterusnya tidaklah menghimpun  seluruh sifat-Nya, sehingga Allah disebut sebagi tuhan dalm islam, karena pada nama Allah itu sendiri sudah menebutkan keseluruhan dari sifat agung yang Ada pada Diri-Nya. Dalam kaitan ini H.M. Quraish Shihab lebih menegaskan dan dapat disepakati bahwa kata Allah mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh kata sealainnya, ia adalah kata yang sempurna huruf-hurufnya, sempurna maknanya serta memilki kekhususan yang berkaitan dengan rahasia-Nya, sementara para ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinami Ismullah al A’zam ( nama Allah yang paling Sempurna ) yang bila di ucapkan dalam do’a maka Allah akan mengabulkannya.
  3. Seseorang yang mempercayai Allah sebagai yang memiliki sifat ar-rahman dan ar-rahim tersebut akan memiliki implikasi psikologi yang mendalam. Orang tersebut akan kuat batin dan jiwanya, sehingga ia tidak pernah merasa takut menghadapi hidup dengan berbagai percobaan didunia ini. Dan dia akan mersa nyaman dan tentram dengan keadaan apapun didunia ini, karena dia merasa bahwasaannya Allah selalu menyertainya dan percaya bahwasanyya Allah akan selalu melindungii setiap makhluknya.


URAIAN


Di dalam Al Qur’an kata ar-rahman terulang sebanyak 57 kali, sedangkan ar-rahim sebanyak 95 kali. Banyak para ulama berpendapat bahwa bahwa baik ar-rahman maupun ar-rahim keduanya terambil dari akar kata rahmat dengan alasan bahwa wazan ( timbangan ) kata tersebut dikenal dalam bhasa arab, yaitu rahman setimbang dengan fa’lan dan rahim setimbang dengan fa’il. Ar-rahman seperti di kemukakan diatas tidak dapat disandang kecuali oleh Allah SWT, karena itu pula ditemukan dalam Al Qur’an yang mengajak manusia untuk menyembah-Nya dengan menggunakan kata ar-rahman sebagai kata pengganti kata Allah atau menyebut kedua kata tersebut sejajar dan bersamaan. Makna yang terkandung dari uraian ini adalah bahwa Allah SWT memiliki sifat yang maha pengasih dan penyayang terhadap seluruh makhluk ciptaan-Nya.


Sepeti yang telah disinggung pada pertanyyan yang ketiga bahwa Orang yang mempercayai Allah sebagai yang memiliki sifat ar-rahman dan ar-rahim tersebut akan memiliki implikasi psikologi yang mendalam. Orang tersebut akan kuat batin dan jiwanya, sehingga ia tidak pernah merasa takut menghadapi hidup dengan berbagai percobaan didunia ini. Kekuatan orang yang beriman ini diperoleh karena harapan akan kasih sayang Allah yang senantiasa menyertai makhluk-Nya. Dia tidak akan putus asa karena dia yakin bahwa Allah selalu menyertainya, dengan demikian kepercayaan kepada sifat ar-rahman dan ar-rahim ini akan menimbulkan sikap optimis. Namun bersamaan dengan timbulnya sikap optimis tersebut, orang yang memiliki kepercayaan kepada Allah yang memiliki sifat yang demikian itu harus pula berupaya meniru atau menyerap sifat-sifat tersebut menurut kadar kesanggupan dirinya. 


Banyak teori yang berpendapat Allah sebagai tuhan dalam islam, contohnya dalam kalngan para ulama menjelaskan kata Allah terambil dari akar kata aliba ya’lahu yang berarti tenang karena hati terasa tenang bersamya, atau dalam arti menuju dan memohon karena harapan seluruh makhluk tertuju pada--Nya dan kepada-Nya juga makluk bermohon. Selain itu teori lain menyatakan bahwa Allah berasal dari kata Illah yang berarti segala sesuatu yang disembah, baik penyembhan itu tidak dibenarkan oleh akidah islam, seperti terhadap matahari, bintang, bulan, manusia dan berhala, maupun yang dibenarkan dan di perintahkan oleh islam, yakni zat yang wajib wujud-Nya yakni Allah SWT. Dan ketika kata Illah di beri awal Al, dan menjadi kata Allah maka menjadilah ia tuhan yang Khusus untuk Islam. Dalam kaitan ini sejalan dengan ucapan La illaha Illa Allah ( tiada tuhan yang di akui sebagai pencipta, berkuasa, dan wajib disembah dan seterusnya kecuali Allah ).



 


 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAKALAH TAFSIR | TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG ALLAH SWT"

Posting Komentar