MAKALAH TAFSIR | TAFSIR SURAT AL FATIHAH


MAKALAH

 “TAFSIR SURAT AL FATIHAH”

 



 


 


 


 


 


Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


 Dosen Pengampu : Bp.Islah Gusmian, M.Ag


 

Di  susun oleh :


 



 


 


 


 


 


 


JURUSAN TARBIYAH


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINNGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )


SURAKARTA


2010


BAB I


PENDAHULUAN


Surat Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat-kalimatnya. Surah ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian satu sama lain dengan cara yang sangat menarik. Berkenaan dengan nama “Allah” yang menunjuk kepada Dzat Yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama. Kemudian kita dapati kata-kata, hanya Engkau kami sembah dalam bagian yang kedua. Segera setelah seorang abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Tuhan bebas dari segala cacat dan kekurangan serta memiliki segala sifat sempurna, maka seruan hanya Engkau kami sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan semesta alam” tercantum kata-kata kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua. Setelah orang Islam mengetahui bahwa Tuhan itu Khalik dan Pemelihara sekalian alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada Tuhan sambil berkata, kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahman”, yakni Pemberi karunia tak terbilang dan Pemberi dengan Cuma-Cuma segala keperluan kita, tercantum kata-kata, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus dalam bagian kedua; sebab, karunia terbesar tersedia bagi manusia ialah petunjuk yang disediakan Tuhan baginya, dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya. Sesuai dengan sifat “Ar-Rahim”, yakni Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dalam bagian pertama, kita jumpai kata-kata, Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahim lah yang menganugerahkan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Lagi, sesuai dengan “Pemilik hari pembalasan” kita dapatkan Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggung jawaban atas amal perbuatannya, ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik Hari Pembalasan, ia mulai berdoa kepada Tuhan, supaya ia dipelihara dari murka-Nya dan dari kesesatan dari jalan lurus.


 


 


 


 


BAB I I


RUMUSAN MASALAH


Dalam makalah yang berjudul “tafsir surat al fatihah” ini rumusan masalahnya adalah :


  • Apakah pengertian tafsir?
  • Tujuan mempelajari tafsir?
  • Bagaimana Terjemahan kosa kata Surat Al fatihah?
  • Apakah nama-nama surat al fatihah?
  • Keuntungan surat Al fatihah?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


BAB III


PEMBAHASAN


 


I.                   PENGERTIAN TAFSIR


Kata Tafsir secara bahasa mempunyai makna : penyingkapan dan penjelasan terhadap sesuatu. Adapun secara istilah, maka kita akan menemukan definisi yang beragam dari kalangan para ulama. Namun definisi yang paling banyak digunakan dan dipandang paling mewakili cakupan ilmu ini adalah definisi yang dirumuskan oleh Imam Az Zarkasyiy –rahimahullah- yang mengatakan bahwa Tafsir adalah “ilmu yang dengannya Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad saw dapat dipahami, dijelaskan makna-maknanya dan digali hukum dan hikmahnya.”


II.                TUJUAN MEMPELAJARI TAFSIR


Setiap muslim tentu meyakini benar bahwa Al Qur’an yang mulia adalah wahyu Allah Azza wa Jalla yang diturunkan dengan suatu tujuan yang maha penting. Tidak untuk sekedar dibaca atau dijadikan sebagai wirid harian oleh seorang muslim –walaupun itu juga penting-. Namun lebih daripada itu, Al Qur’an diturunkan agar dapat menjadi sumber petunjuk paling benar dan lurus yang akan mengarahkan bahtera kehidupan setiap individu bahkan sebuah masyarakat ke jalan yang semestinya, jalan yang sesuai dengan fitrahnya dan –tentu saja- sesuai dengan kehendak Sang Khaliq Yang begitu mengasihi dan menyayangi mereka. Oleh sebab itu, kita sangat yakin bahwa kebangkitan, kemenangan dan kejayaan setiap individu dan masyarakat tidak akan benar-benar teraih dengat mudah begitu saja kecuali dengan jalan menanamkan sikap Al Istirsyad ( selalu mengambil petunjuk ) dari ajaran dan aturan Al Qur’an yang telah mempertimbangkan dan memperhatikan semua unsur kebahagiaan manusia, sebab bukankah Al Qur’an adalah Kalam Allah Yang Maha mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia ?? Maka berangkat dari keyakinan tersebut, tentu menjadi sangat logis bila kita menyatakan bahwa tidak ada jalan untuk menanamkan sikap Al Istirsyad terhadap Al Qur’an itu kecuali dengan berusaha memahami dan mentadabburi pesan-pesan Al Qur’an. Dan Tafsir-lah satu-satunya jalan untuk memahami dan mentadabburi kedalaman pesan-pesan Al Qur’an tersebut. Oleh karena itu, menjadi jelaslah betapa pentingnya setiap muslim berusaha menyediakan jeda waktu khusus dalam 24 jam yang ia lewati dalam sehari untuk mempelajari tafsir terhadap kandungan Al Qur’an, agar hidupnya selamat di dunia dan bahagia di akhirat.


III.    CARA MENAFSIRKAN AL-QUR’AN YANG BENAR


Para ulama tafsir telah menyepakati bahwa metode penafsiran Al Qur’an yang benar adalah yang merujuk pada kelima hal berikut: Pertama, Merujuk kepada Al Qur’an itu sendiri. Atau menafsirkan sebuah ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an. Sebab Allah Azza wa Jalla-lah yang mengucapkan dan menurunkannya, sehingga Allah-lah yang paling mengetahui maksud dan makna yang terkandung didalamnya. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah Ta’ala :


أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ


“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ( Yunus : 64 ) . “Wali-wali Allah” dalam ayat ini kemudian ditafsirkan oleh ayat berikutnya yang menyatakan :


الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ


“(Yaitu)orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”Kedua, Merujuk kepada penjelasan / penafsiran Rasulullah saw, sebab beliau-lah yang menerima dan menyampaikan Al Qur’an itu dari Allah kepada manusia, sehingga beliau-lah manusia yang paling memahami makna dan maksud dari ayat-ayat Allah tersebut. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah :


لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ


“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26 ) . Apa yang dimaksud “Tambahannya” dalam ayat itu kemudian ditafsirkan dalam hadits Rasulullah saw –yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Ka’ab ibn ‘Ujrah radhiallahu ‘anhu- di mana Rasulullah menyatakan : “Lalu (Allah) menyingkapkan hijab, maka mereka ( orang-orang beriman ) itu tidak pernah dikaruniakan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Rabb mereka Azza wa Jalla.” Lalu beliau membaca ayat ini, yang menunjukkan bahwa “tambahannya” dalam ayat ini berarti “melihat wajah Allah di hari kiamat”.Ketiga, Merujuk kepada penafsiran para sahabat Nabi saw. Khususnya para sahabat yang dikenal memiliki keunggulan dalam hal penafsiran Al Qur’an, seperti Ibn ‘Abbas –radhiallahu ‘anhu-. Mengapa ? Sebab Al Qur’an itu diturunkan dengan bahasa mereka dan di masa mereka, mereka juga adalah manusia paling jujur setelah para Nabi dan Rasul di samping tentu saja kebersihan dan kelurusan hati mereka dari hal-hal yang dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Di antara contoh penafsiran sahabat adalah penafsiran


 


IV.             KOSA KATA SURAT AL-FATIHAH


A.               
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Menyayangi. Ummu Salamah r.a. berkata, "Rasulullah saw. telah membaca Bismillahirrahmanirrahim ketika membaca Fatihah dalam salat. (Hadis da'if Riwayat Ibnu Khuzaimah).


Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh salat Nabi saw. membaca keras-keras Bismillahirrahmanirrahim. (HR. an-Nasa'i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim).


Imam Syafii dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Muawiyah ketika sembahyang di Madinah sebagai imam, tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim, maka ditegur oleh sahabat Muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi ia membaca Bismillahirrahmanirrahim.


Anas r.a. berkata, "Saya sembahyang di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin". (Bukhari, Muslim).


Dan sunat juga dibaca ketika menyembelih (membantai) binatang, juga sunat ketika makan, karena sabda Nabi saw. ke- ada Umar bin Abi Salamah yang berbunyi, "Bacalah Bismil- lah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu". (HR. Muslim). Juga membaca Basmalah ketika akan jima' (bersetubuh) sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a. Rasullah saw. bersabda: Andaikan salah satu kamu jika akan bersetubuh (jima') de- ngan istrinya membaca, "engan nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari rezeki yang Tuhan berikan kepada kami. Maka jika ditakdirkan mendapat anak dari jima' tidak mudah diganggu oleh setan untuk selamanya". (HR. Bukhari, Muslim).


 


Bismillah ( Dengan nama ALLAH )


Dengan nama Allah. Susunan kalimat yang demikian ini dalam bahasa Arab berarti ada susunan kata-kata yang mendahuluinya yaitu: Aku mulai perbuatan ini dengan nama Allah, atau: Permulaan dalam perbuatanku ini dengan nama Allah; untuk mendapat berkat dan pertolongan rahmat Allah sehingga dapat selesai dengan sempurna dan baik. Juga untuk menyedari kembali sebagai makhluk Allah, bahawa segalanya bergantung kepada rahmat kurnia Allah. Hidup, mati dan daya upaya semata-semata terserah kepada rahmat kurnia Allah Azza wa Jalla.




Nama Zat Allah Ta'ala. Nama Allah khusus bagi Allah, tidak dinamakan pada zat yang lain selain Allah. Haram menamakan dengan nama Allah pada zat yang lain selain Allah melainkan dengan menyandarkan sesuatu seperti Abdullah (hamba Allah) atau Amatullah (hamba perempuan Allah).


Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Murah Yang Maha Penyayang)


Ar-Rahman (Yang Pemurah) yakni yang penuh rahmatNya kepada semua makhluk di dunia hingga di akhirat, kepada yang mukmin maupun yang kafir. Adapun Ar-Rahim (Yang Penyayang) khusus rahimNya buat kaum mukmin sahaja.


Firman Allah: "Arrahman alal arsyi istawa", untuk menunjukkan bahwa rahmat Allah meliputi (memenuhi) seiuruh Arsy. Dan firman Allah: "Wa kaana bil mu'miniina rahiima" (Dan terhadap kaum mukminin sangat belas kasih).


Nama Rahman ini juga khusus bagi Allah, tidak dapat dipakai oleh lain-lainNya. Karena itu ketika Musailama al-Kadzdzab berani menamakan dirinya Rahmanul Yamamah, maka Allah membuka kepalsuan dan kedustaannya, sehingga dikenal di tengah-tengah masyarakat Musailamah al-Khadzdzab bukan sahaja bagi penduduk kota bahkan orang-orang Baduwi juga menyebutnya Musailamah al-Khadzdzab iaitu Musailamah Yang Pembohong.


  1. Segala puja dan puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara alam semesta.


Ibn Jarir berkata, "Alhamdu lillah, syukur yang ikhlas melulu kepada Allah tidak kepada lain-lain-Nya daripada makhluk-Nya, syukur itu karena nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba dan makhluk-Nya yang tidak dapat dihitung dan tidak terbatas, seperti alat anggota manusia untuk menunaikan kewajiban taat kepada-Nya, di samping rezeki yang diberikan kepada semua makhluk manusia, jin dan binatang dari berbagai perlengkapan hidup, karena itulah maka pujian itu sejak awal hingga akhirnya tetap pada Allah semata-mata.




Alhamdullilah


Pujian Allah pada diri-Nya, yang mengandung tuntunan kepada hamba-Nya supaya mereka memuji Allah seperti seakan-akan perintah Allah, "Bacalah olehmu Alhamdulillah".


Anas. bin Malik r.a. berkata, Nabi saw. bersabda: Tiadalah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba- Nya, kemudian hamba itu mengucap "Alhamdu Lillah", melainkan apa yang diberi itu lebih utama (afdhal) dari yang ia terima. (Yakni ucapan "Alhamdu Lillah" lebih be- sar nilainya dari nikmat dunia itu). (HR. Ibnu Majah).




Bererti pemilik yang berhak penuh, juga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan, dan semua makhluk alam semesta.


Alam ialah segala sesuatu selain Allah. Maka Allah Rabb dari semua alam itu sebagai pencipta, yang mcmelihara, memperbaiki dan menjamin. Sebagaimana tersebut dalam surat asy- Syu'araa 23-24. Fir'aun bertanya, "Apakah rabbul alamin itu?" Jawab Musa, "Tuhan Pencipta, Pemelihara penjamin langit dan bumi dan apa saja yang di antara keduanya, jika kalian mahu percaya dan yakin."


Alam itu juga pecahan dari alamat (tanda) sebab alam ini semua menunjukkan dan membuktikan kcpada orang yang memperhatikannya sebagai tanda adanya Allah Tuhan yang menjadikannya.


  1.  


Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.




yang memberi nikmat yang sebesar-besarnya seperti nikmat makan, minum, harta benda dan lain-lain.




yang memberi nikmat yang halus sehingga tidak terasa, seperti nikmat iman dan islam. Jika anda akan menghitung nikmat kurnia Allah maka takkan dapat menghitungnya.


  1.  


Raja yang memiliki pembalasan




Dapat dibaca: Maliki (Raja), dan Maaliki (Pemilik - Yang Memiliki). Maaliki sesuai dengan ayat :"Sesungguhnya Kami yang mewarisi bumi dan semua yang di atasnya, dan kepada Kami mereka akan kembali."(Maryam 40).Maliki sesuai dengan ayat: Katakanlah, "Aku berlindung dengan Tuhannya manusia. Rajanya manusia".
(an-Naas 1-2) "Bagi siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Bagi Allah Yang Esa yang memaksa (perkasa)."(al-Mu'min = Ghafir 16).Kerajaan yang sesungguhnya pada hari itu hanya bagi Ar:Rahman.(al-Furqan 26).


Ad-Din (Pembalasan dan Perhitungan).


Sesuai dengan ayat:"Apakah kami akan dibalas (diperhitungkan)". (as-Shafaat 53). Umar r.a. berkata, "Andaikan perhitungan bagi dirimu sebelum kamu dihisab (diperhitungkan) dan pertimbangkan untuk dirimu sebelum kamu ditimbang, dan siap-siaplah untuk menghadapi perhitungan yang besar, menghadap kepada Tuhan yang tidak tersembunyi pada-Nya sedikit pun dari amal perbuatanmu. Pada hari kiamat kelak kalian akan dihadapkan kepada Tuhan dan tidak tersembunyi pada-Nya suatu apa pun."


  1.  


Hanya kepadaMu (Allah) kami mengabdi (menyembah) dan hanya kepada-Mu pula kami minta pertolongan.


Adh-Dhahaak dari Ibn Abbas berkata,


"Iyyaka na'budu bermaksud Kepada-Mu kami menyembah mengesakan dan takut dan berharap, wahai Tuhan tidak ada lain-Mu". Dan Iyyaka nasta'in bermaksud "Kami minta tolohg kepada-Mu untuk menjalankan taat dan untuk mencapai semua hajat kepentinganku"


Qatadah berkata,


Dalam Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, Allah menyuruh supaya tulus ikhlas dalam melakukan ibadat kepada Allah dan supaya benar-benar mengharap bantuan pertolongan Allah dalam segala urusan."


  1.  


Pimpinlah kami ke jalan yang lurus.


Shirath dapat dibaca dengan shad, siin dan zai dan tidak berubah arti.Shiraathal mustaqiim, jalan yang lurus yang jelas tidak berliku-liku. Shiraatal mustaqiim, ialah mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Juga berarti Kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Asshiratul mustaqiim kitabullah'. Juga berarti Islam, sebagai agama Allah yang tidak akan diterima lainnya.


Tujuan ayat ini minta taufik hidayat semoga tetap mengikuti apa yang diridai Allah, sebab siapa yang mendapat taufik hidayat untuk apa yang diridai Allah maka ia termasuk golongan mereka yang mendapa nikmat dari Allah daripada Nabi shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan siapa yang mendapat taufik hidayat sedemikian berarti ia benar-benar Islam berpegang pada kitab Allah dan sunnaturrasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan syariat agama.


G.     


Jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Tuhan atas mereka, dan bukan jalan yang dimurkai Tuhan atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang sesat.


Inilah maksud jalan yang lurus itu, yaitu yang dahulu sudah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat rida dan nikmat dari Allah ialah mereka yang tersebut dalam ayat 69 an-Nisa:


Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasulullah maka mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin, dan merekalah sebaik-baik kawan. (an-Nisa 69).


Dilanjutkan oleh Allah dengan ayat:


"Dzalikal fadh lu minallahi wakafa billahi aliimaa" (Itulah kurnia Allah dan cukup Allah yang Maha Mengetahui.)


Ibnu Abbas berkata, "Jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Tuhan kepada mereka sehingga dapat menjalankan taat ibadat serta istiqamah seperti Malaikat, Nabi-nabi, Shiddiqin, syuhada dan shalihin.


Orang Yahudi disebut dalam ayat "Man la'anabullahu wa ghadhiba alaihi"(Orang yang dikutuk (dilaknat) oleh Allah dan dimurkai, sehingga dijadikan di antara mereka kera dan babi.)


Orang Nashara disebut dalam ayat "Qad dhallu min qablu, wa adhallu katsiera wa dhallu an sawaa issabiil" (Mereka yangtelah sesat sejak dahulu, dan menyesatkan orang banyak, dan tersesat dari jalan yang benar.)


Surat ini hanya tujuh ayat, mengandung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, lalu menyebut hal Hari Kemudian, pembalasan dan tuntutan, kemudian menganjurkan kepada hamba supaya meminta kepada Allah dan merendah diri pada Allah, serta lepas bebas dari daya kekuatan diri menuju kepada tulus ikhlas dalam melakukan ibadat dan tauhid pada Allah, kemudian menganjurkan kepada hamba sahaya selalu minta hidayat taufik dan pimpinan Allah untuk dapat mengikuti shirat mustaqiim supaya dapat tergolong dari golongan hamba-hamba Allah yang telah mendapat nikmat dari golongan Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Shalihin. Juga mengandung anjuran supaya berlaku baik mengerjakan amal saleh jangan sampai tergolong orang yang dimurkai atau tersesat dari jalan Allah.


 


     IV. NAMA-NAMA SURAT AL FATIHAH
Ada beberapa nama yang sering digunakan untuk surah ini, diantaranya adalah : 
  1. Al Fatihah, [sang pembuka]..
  2. Ummul Kitab. As Sab'u Al Matsany. Artinya "tujuh ayat yang sering diulang-ulang". Tentu saja ini sangat berkaitan erat dengan seringnya surah Al Fatihah yang berjumlah tujuh ayat ini diulang dalam keseharian seorang muslim. Nama ini sendiri disebutkan dalam beberapa hadits Nabi saw, seperti : "Dia itu adalah 'ummul Qur'an', dia itu adalah pembuka AlKitab, dan dia itu adalah 'as sab'u al matsany'." (HR. Ath Thabary dari Abu Hurairah –radhiallahu 'anhu-). Tidak hanya itu, bahkan nama ini disebutkan pula dalam salah satu ayat Al Qur'an : "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur'an yang agung ." (Al Hijr : 87)
  3. Al Hamd[ [berarti pujian.]
  4. Ash Shalat.
  5. Ar Ruqyah.
KEUTAMAAN SURAT AL FATIHAH
Ibn Katsir –rahimahullah- menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan surah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut :
  1. Abu Sa'id ibn Al Mu'alla –radhiallahu 'anhu- pernah bercerita : "Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah saw memanggilku. Namun aku tidak segera memenuhinya hingga aku selesai mengerjakan shalat. Lalu kemudian aku mendatangi beliau. Beliau berkata : "Apa yang menghalangimu untuk memenuhi panggilanku ?". Aku menjawab : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang mengerjakan shalat." Beliau lalu berkata : "Bukankah Allah Ta'ala telah mengatakan : 'Wahai sekalian orang-orang beriman, penuhilah panggilan Allah dan RasulNya bila ia memanggil kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian' ?", lalu beliau berkata : "Sungguh aku akan mengajarimu sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur'an sebelum engkau keluar dari mesjid." Beliau lalu memegang tanganku. Hingga ketika beliau ingin keluar dari mesjid, aku berkata pada beliau : "Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajariku sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur'an ?" Beliau menjawab : "Iya, (surah itu adalah) Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ia adalah as sab'u al matsany dan Al Qur'an agung yang diberikan kepadaku." (HR. Bukhari dan Ahmad).
  2. Ibn 'Abbad –radhiallahu 'anhuma- pernah berkisah : "Pada suatu ketika Rasulullah saw bersama dengan Jibril. Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit. Maka targhib] setelah peringatan.Jibril menengadahka pandangannya ke langit, lalu berkata : 'Itu adalah salah satu pintu langit yang dibuka yang sebelumnya belum pernah dibuka'. Lalu malaikat itu mendatangi Nabi saw, lalu berkata : 'Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu ; yaitu Fatihah Al Kitab dan ayat-ayat penutup surah Al Baqarah. Tidaklah engkau membaca sau hurufpun dari keduanya melainkan engkau akan diberi." (HR. Muslim dan An Nasa'iy)
  3. Hadits Abu Hurairah –radhiallahu 'anhu- dari Rasulullah saw yang bersabda : "Barang siapa yang mengerjakan shalat dan tidak membaca Ummul Qur'an maka shalatnya terputus tidak sempurna –beliau mengulanginya sebanyak tiga kali-." (HR. Muslim). Setelah menyampaikan hadits ini, Abu Hurairah ditanya : "Tetapi kami berada di belakang imam." Ia menjawab : "Bacalah dalam hatimu, sebab sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : "Allah Azza wa Jalla berfirman : 'Aku telah membagi shalat (maksudnya surah Al Fatihah) menjadi dua bagian antara Aku dan hambaKu. Dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta. Maka apabila ia mengucapkan 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin', Allah pun berkata : 'H ambaKu telah memujiKu'. Dan bila sang hamba mengucapkan 'Ar Rahmanirrahim' maka Allah pun berkata : 'HambaKu telah menyanjungKu'. Maka bila sang hamba membaca 'Maliki yaumiddin', Allah pun berkata : 'HambaKu telah mengagungkanKu'. Dan terkadang Ia mengatakan : 'HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu'. Dan tatkala sang hamba mengucapkan : 'Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in', Allah berkata : 'Inilah batas pembagi (surah Al Fatihah) antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang ia minta. Maka bila sang hamba membaca 'Ihdinashshirathal mustaqim, Shiratalladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wala-dhdhallin' , Allah berkata : 'Ini adalah untuk hambaKu, dan untuknya apa yang telah ia minta'. (HR. Muslim dan An Nasa'iy).





 


 


REVISI


 


Nama Allah adalah nama yang tidak diberikan siapapun selain dirinya sendiri.Oleh karena itu dalam bahasa arab tidak diketahui dari kata apa itu berasal .maka para ahli nahwu menyatakan


            Adalah ismun jamid.


Ar-rahman nama yang bersifat umum yang meliputi segala b3entuk macam rahmat di hususkan bagi allah semata.sedangkan Ar-rohim memberikan kasih sayang pada orang yang beriman.


Al Qurtubi menyatakan allah menyifatidirinya dengan Ar-rahman dan Ar-rohim setelah robal ngalamin untuk menyelingi anjuran [targhib] setelah peringatan


Keempat sifat Tuhan ialah, “Tuhan sekalian alam”, “Pemurah”, “Penyayang” dan “Pemilik Hari Pembalasan” adalah sifat-sifat pokok. Sifat-sifat lain hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran, tentang keempat sifat tadi yang laksana empat buah tiang di atasnya terletak singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa. Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas memberikan penjelasan, bagaimana Tuhan menampakkan sifat-sifat-Nya kepada manusia. Sifat Rabb-ul-’alamin (Tuhan sekalian alam) mengandung arti bahwa seiring dengan dijadikannya manusia, Tuhan menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan rohaninya. Sifat Ar-Rahman (Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dan dengan perantaraan itu. Tuhan seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan rohaninya. Dan jika manusia memakai alat-alat yang dianugerahkan kepadanya itu secara tepat, sifat Ar-Rahim mulai berlaku untuk mengganjar amalnya. Yang terakhir sekali, sifat Maliki yaum-id-din (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukkan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia. Dengan demikian, pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan. Sungguhpun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, proses pembalasan itu terus berlaku, bahkan dalamkehidupan ini juga dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain, para raja, para penguasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi, pada Hari Pembalasan, kedaulatan Tuhan itu mandiri dan mutalk. Dan tindakan Pembalasan itu sendiri seluruhnya ada dalam kekuasan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil. Pemakaian kata Malik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa Tuhan tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Malik (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apapun sekehendak-Nya. Dengan mengambil din dalam arti “agama”, maka kata-kata “Yang mempunyai waktu agama” akan berarti bahwa, bila suatu agama sejati diturunkan, umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur, maka nampaknya seolah-olah sekalian alam berajalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Pencipta dan Al-Malik.


Ibadah berarti merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan, dan berbakti sepenuhnya. Ibadah mengandung pula arti, iman kepada Tauhid Ilahi dan pernyataan iman itu dengan perbuatan. Kata itu berarti juga, penerimaan kesan atau cap dari sesuatu. Dalam arti ini ibadah akan berarti, menerima kesan atau cap dari sifat-sifat Ilahi dan meresapkan serta mencerminkan sifat-sifat itu dalam dirinya sendiri.


Kata-kata Hanya Engkau kami sembah, telah ditempatkan sebelum kata-kata, hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan, untuk menunjukkan bahwa sesudah orang mengetahui kebesaran sifat-sifat Tuhan, maka dorongan pertama yang timbul dalam hatinya ialah beribadah kepada Dia. Pikiran untuk mohon pertolongan Tuhan, datang sesudah adanya dorongan untuk beribadah. Orang ingin beribadah kepada Tuhan, tetapi ia menyadari bahwa untuk berbuat demikian, ia memerlukan pertolongan Tuhan. Pemakaian bentuk jamak dalam ayat ini mengarahkan perhatian kita kepada dua pokok yang sangat penting yaitu (a) bahwa manusia tidak hidup seorang diri di bumi ini, melainkan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat sekitarnya. Maka ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi harus menarik orang-orang lain juga bersama dia melangkah di jalan Tuhan. (b) bahwa selama manusia tidak mengubah lingkungannya, ia belum aman.


Layak dicatat pula, bahwa Tuhan dalam keempat ayat pertama disebut sebagai orang ketiga, tetapi dalam ayat ini tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk orang kedua. Renungan atas keempat sifat Ilahi itu, membangkitkan dalam diri manusia keinginan yang begitu tak tertahankan untuk dapat melihat Khalik-Nya, dan begitu mendalam dan kuat hasratnya untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya, sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya itu, bentuk orang ketiga yang dipakai pada keempat ayat permulaan, telah diubah menjadi bentuk orang kedua dalam ayat ini.


Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia, kebendaan dan rohani, untuk masa ini dan masa yang akan datang. Orang mukmin berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lurus, jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan yang benar dan lurus itu, tetapi ia tidak dipimpin kepadanya, atau jika pun dibimbing ke sana, ia tidak bersitetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir. Doa itu menghendaki, agar orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya suatu jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna hidayah, yang berarti menunjukkan jalan yang lurus (90 : 11), membimbing ke jalan yang lurus (29 : 70) dan membuat orang mengikuti jalan yang lurus (7 : 44) (Mufradat dan Baqa). Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Tuhan pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya, agar ia senantiasa mengajukan kepada Tuhan permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Maka oleh karena itu, doa terus- menerus itu memang sangat perlu. Selama kita mempunyai keperluan-keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi serta tujuan-tujuan yang belum tercapai, kita selamanya memerlukan doa.


14. Orang mukmin sejati tidak akan puas hanya dengan dipimpin ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mencapai kedudukan saat Tuhan mulai menganugerahkan karunia-karunia istimewa kepada hamba-hamba-Nya. Ia melihat kepada contoh-contoh karunia Ilahi yang dianugerahkan kepada para pilihan Tuhan, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia malahan tidak berhenti sampai disitu saja, tetapi ia berusaha keras dan berdoa agar supaya digolongkan diantara “orang-orang yang telah mendapat nikmat” dan menjadi seorang dari antara mereka. Orang-orang yang telah mendapat nikmat itu, telah disebut dalam 4:60. Doa itu umum dan tidak untuk suatu karunia tertentu. Orang mukmin bermohon kepada Tuhan agar dianugerahi karunia rohani yang tertinggi kepadanya, dan terserah kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang mukmin yang menerimanya.


15. Surat Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat-kalimatnya. Surah ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian satu sama lain dengan cara yang sangat menarik. Berkenaan dengan nama “Allah” yang menunjuk kepada Dzat Yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama. Kemudian kita dapati kata-kata, hanya Engkau kami sembah dalam bagian yang kedua. Segera setelah seorang abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Tuhan bebas dari segala cacat dan kekurangan serta memiliki segala sifat sempurna, maka seruan hanya Engkau kami sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan semesta alam” tercantum kata-kata kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua. Setelah orang Islam mengetahui bahwa Tuhan itu Khalik dan Pemelihara sekalian alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada Tuhan sambil berkata, kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahman”, yakni Pemberi karunia tak terbilang dan Pemberi dengan Cuma-Cuma segala keperluan kita, tercantum kata-kata, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus dalam bagian kedua; sebab, karunia terbesar tersedia bagi manusia ialah petunjuk yang disediakan Tuhan baginya, dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya. Sesuai dengan sifat “Ar-Rahim”, yakni Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dalam bagian pertama, kita jumpai kata-kata, Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahim lah yang menganugerahkan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Lagi, sesuai dengan “Pemilik hari pembalasan” kita dapatkan Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggung jawaban atas amal perbuatannya, ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik Hari Pembalasan, ia mulai berdoa kepada Tuhan, supaya ia dipelihara dari murka-Nya dan dari kesesatan dari jalan lurus.

. Dalam Al-Fatihah, sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, “Pencipta dan Pemelihara sekalian alam”, “Maha Pemurah” dan “Maha Penyayang”. Kemudian segera mengikutinya “Pemilik Hari Pembalasan” yang memperingatkan manusia bahwa bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik, maka ia harus bersedia mempertanggung jawabkan amal perbuatannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian, pendorong kepada “takut” dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta. Tetapi, oleh karena kasih-sayang Tuhan itu jauh mengatasi sifat Murka-Nya, sifat inipun yang merupakan yang merupakan satu-satunya sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut, tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikaknya, disinipun kasih-sayang Tuhan mengatasi Murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam sifat ini bahwa kita tidak akan menghadap seorang Hakim, tetapi menghadap Tuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali. Pendek kata, Al-Fatihah itu khazanah ilmu rohani yang menakjubkan. Al-Fatihah itu Surah pendek dengan tujuan ayat ringkas, tetapi Surah yang sungguh-sungguh merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab”, Al-Fatihah itu intisari dan pati Al Qur’an. Mulai dengan nama Allah, Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat. Surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Tuhan, yaitu (1) Yang menjadikan dan memelihara alam semesta; (2) Maha Pemurah Yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahkan sebelum ia dilahirkan, dan tanpa suatu usaha apapun dari pihak manusia untuk memperolehnya; (3) Maha Penyayang, Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbuatan manusia dan Yang mengganjarnya dengan amat berlimpah-limpah; dan (4) Pemilik Hari Pembalasan; dihadapan-Nya, manusia harus mempertanggung jawabkan amal perbuatannya dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makhluk-Nya semata-mata sebagai Hakim, melainkan sebagai Majikannya Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan Yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik. Itulah citra Tuhan Islam, seperti dikemukakan awal sekali Al Qur’an, mengenai Dzat Yang kekuasaan dan kedaulatan-Nya tak ada hingganya dan kasih-sayang serta kemurahan-Nya tiada batasnya. Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa, mengingat Tuhan nya itu Pemilik semua sifat agung dan luhur, malah ia bersedia dan malah berhasrat menyembah Dia dan menjatuhkan diri pada kaki-Nya dalam pengabdian yang sempurna; tetapi Tuhan mengetahui bahwa manusia itu lemah, mudah keliru dan tergelincir, maka Tuhan mendorong hamba-hamba-Nya, agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang dihadapinya. Akhirnya datanglah doa yang padat dan berjangkauan jauh, suatu doa yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khalik nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan rohani dan duniawi, baik mengenai keperluan-keperluannya saat ini maupun dimasa depan. Ia berdoa kepada Tuhan agar ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah, tetapi juga selaku “orang-orang terpilih”, menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Tuhan yang paling banyak dan paling besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus semakin dekat lagi kepada Tuhan dan Junjungan- nya, tanpa terantuk-antuk diperjalannya seperti telah terjadi pada banyak dari antara mereka yang hidup dimasa lampau. Itulah pokok Surah pembukaan Al Qur’an, yang senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain, dalam seluruh tubuh Kitab Suci itu.


 


 


 


 


DAFTAR PUSTAKA


Tafsir Depag


Tafsir Ibn Katsir Al Fatikhah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAKALAH TAFSIR | TAFSIR SURAT AL FATIHAH"

Posting Komentar